Tempat yang tepat untuk bercerita saat kita menghadapi masalah, menghadapi berbagai persoalan hidup, tempat yang paling nyaman untuk mengungkapkan segala keluh kesah yang sedang di hadapi...
Kadang kita terlalu egois, saat kita senang, sejenak kita melupakan ibu kita, padahal tak sedetikpun dia melupakan kita... Walaupun dia jauh dari kita, tapi do'anya selalu terucap setiap selesai sholat, "Ya Allah, jadikanlah anak-anakku menjadi orang yang berguna, menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, serta keselamatan bagi mereka di dunia maupun di akherat.. Amien...". Sepenggal do'a yang ibu kita panjatkan, tapi sanagat berarti.
"Aku sayang ibu.....", sepenggal kata itu yang ingin aku ucapkan dengan setulus-tulusnya, dengan segenap jiwa dan kesadaranku, tapi mulut ini terasa begitu susah untuk mengucapkannya dengan tulus. Entah apa sebab,moment-moment penting telah terlewati. Saat milad, aku hanya bisa bilang, "Ibu, selamat hari lahir ya, semoga diberikan kemurahan rizki, diberi keberkahan, serta umur yang panjang.", "aku sayang ibu"(hanya terucap dalam hati). Begitupun saat hari raya id v3, hanya rutinitas seperti biasa. Aku tak mau, moment itu dan kesempatan itu hilang, sebelum aku mengucapakannya dengan segenap ketulusan hatiku.
Sebuah penggalan cerita dari novel "HAFALAN SHOLAT DELISA", karya : Tere Liye,
Delisa duduk bertelekan lutut di belakang ummi. Kemudian pelan memeluk leher ummi yang duduk berzikir di depannya.
"Ada apa, sayang?" ummi menghentikan zikirnya, menoleh menatap muka Delisa yang ada di bahu kanannya, tersenyum.
Ya Allah, mata Delisa teduh sekali. Mukanya lembut mentap ummminya. Muka keturunan dengan mukena putih menghias wajahnya. Muka yang habis dibasuh wudhu. Muka Delisa yang habis dibasuh sujud (meski Delisa lupa lagi bacaan sujud tadi). Muka yang habis di basuh dengan zikir. Muka itu mempesona. Mata hijau Delisa mengerjap-ngerjap.
"Ada apa sayang?" ummi menggerak-gerakkan badannya. Seolah-olah menggendong Delisa dari belakang. Tersenyum, menggoda Delisa. Fatimah menatap menyerigai dari belakang. Zikir mereka terhenti. Aisyah dan Zahra bertatapan satu sama lain.
Bibir Delisa menyimpul senyum. Matanya sedang menatap beningnya bola mata ummi. Berbisik.
"Delisa.... D-e-l-i-s-a cinta ummi.... Delisa c-i-n-t-a ummi kare Allah!" Ia pelan sekali mengatakan itu. Kalah oleh desau angin pagi Lhok Nga yang menyelisik kisi-kisi kamar tengah. Tetapi suara itu bertenaga. Amat menggetarkan. Terdengar jelas di telinga kanan ummi. Kalimat yang bisa meruntuhkan tembok hati.
Miris rasanya, saat aku sudah seusia ini, aku hanya dapat mengucapkannya, tapi belum sepenuh hatiku. hanya seperti ucapan "say hello" aat bertemu dengan sahabat.
Kesepatan tidak datang sendiri, kesempatan ada karena kita sendiri yang membuat keputusannya, maka, semoga aku bisa melakukannya..... "Aku Sayang Ibu..... karena Allah......"
Senin, 09 November 2009
Langganan:
Postingan (Atom)